MANOKWARI, LinkPapua.id – Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mendorong sinergi gereja, pemerintah, dan masyarakat adat dalam pembangunan daerah. Dia menilai kolaborasi tiga pilar itu krusial untuk memastikan kebijakan yang adil dan berkelanjutan.
Dominggus menyampaikan hal itu saat membuka Dialog Pembangunan dan Seminar dalam rangka 171 tahun Pekabaran Injil di tanah Papua di Gereja Petrus Amban, Selasa (10/2/2026). Forum ini juga membahas peradaban kedua nubuat Domine IS Kijne dengan melibatkan unsur gereja, pemerintah, dan masyarakat adat.
“Fondasi spiritual yang ditanamkan sejak awal telah membentuk karakter dan jati diri orang Papua hingga hari ini. Nilai iman harus tetap menjadi dasar dalam pembangunan,” ujarnya.
Dia menegaskan pembangunan Papua Barat ke depan harus memasuki fase peradaban kedua yang berlandaskan iman dan penghormatan terhadap adat. Menurutnya, momentum 171 tahun Pekabaran Injil sejak kedatangan Ottow dan Geissler di Pulau Mansinam pada 5 Februari 1855 menjadi titik awal transformasi orang Papua.
Dominggus juga menyinggung nubuat Domine IS Kijne pada 1925 di Wasior tentang kebangkitan orang Papua untuk memimpin dirinya sendiri. Dia mengatakan pesan kejujuran, kesetiaan, dan ketaatan pada nilai moral harus menjadi kompas pembangunan daerah.
“Pembangunan bukan semata fisik, tetapi juga pembangunan manusia yang berakar pada nilai iman dan kearifan lokal,” katanya.
Dia menyebut Pemprov Papua Barat berkomitmen mewujudkan visi Astadiri, yakni aman, sejahtera, bermartabat dan mandiri. Komitmen itu dijalankan melalui pembangunan yang tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga karakter dan nilai kemanusiaan.
Menurutnya, dialog yang mempertemukan gereja, pemerintah, dan masyarakat adat memiliki makna strategis dalam mendukung Otonomi Khusus Papua Jilid II. Sinergi ketiganya dinilai penting agar kebijakan menghormati hak-hak masyarakat adat.
Dalam kesempatan itu juga diluncurkan buku ‘Alkitab dan Konservasi Alam’ karya Prof Sepus M Fatem dan Pdt Dr Anthon Rumbewas. Dominggus menilai buku tersebut relevan dengan kondisi Papua Barat yang kaya hutan hujan tropis dan keanekaragaman hayati.
“Menjaga alam bukan hanya tanggung jawab ekologis, tetapi juga panggilan iman. Pembangunan harus seimbang antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan,” ucapnya. (LP14/red)















